Pendidikan dan Perempuan





Budaya patriarki yang telah ada sejak dahulu di Indonesia ternyata belum hilang sepenuhnya. Hal tersebut ditandai masih ada sebagian orang yang menganggap perempuan tidak setara bahkan tidak diperbolehkan untuk membuat perempuan setara dengan laki-laki. Mungkin, kesetaraan gender yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini hanya ditelan secara mentah oleh beberapa orang dan mungkin sebagian orang memahami emansipasi wanita hanya tentang memperbolehkan perempuan mengenyam pendidikan di sekolah. Akan tetapi, pola pikir mereka memandang perempuan tidak ada bedanya dengan dahulu sebelum diperjuangkannya gender equality oleh Ibu Kartini.

Bahkan, pola pikir yang salah tersebut sebenarnya didominasi oleh kaum perempuan itu sendiri. Misalnya, masih ada beberapa perempuan yang tidak ingin mengenyam pendidikan lebih tinggi dikarenakan perasaan takut tidak ada laki-laki yang berani mendekati, masih ada beberapa perempuan yang merasa pendidikan tidak berpengaruh besar dalam kehidupannya karena mereka ditakdirkan hanya untuk mengurus hal domestik saja, dan beberapa perempuan yang masih mencemooh perempuan lain karena pilihan mereka untuk berusaha menjadi hebat seperti kaum laki-laki.

Bukti bahwa kesetaraan gender belum benar-benar terealisasikan secara menyeluruh kepada masyarakat di Indonesia yaitu ditemukannya riset yang baru-baru ini dirilis pada bulan Januari  yang dilakukan Erwin B Karnadi. Hasil temuan tersebut menjelaskan bahwa dalam dunia kerja, perempuan menghasilkan upah yang lebih rendah dari laki-laki salah satu sebabnya yaitu karena minimnya pengetahuan tentang me-manage waktu dan minimnya pengetahuan tentang mengolah fokus pikiran terhadap suatu hal yang menjadikan mereka tidak lagi fokus pada karier saat telah menjadi ibu.

Satu-satunya hal yang dapat mengubah pola pikir tersebut hanyalah pendidikan. Pendidikan yang dimaksud disini bukan hanya tentang bisa membaca, menulis, dan menghitung saja. Akan tetapi, perempuan harus memiliki pengetahuan yang lebih luas dari itu semua. Karena, peran perempuan itu sendiri memberi pengaruh besar pada semua bidang kehidupan. Misalnya, peran perempuan untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, masyarakat, bahkan negara

Pengetahuan yang harus dimiliki perempuan bisa diuraikan dari hal terkecil dahulu. Misal, dalam ruang lingkup keluarga dimana kaum perempuan erat kaitannya dengan sosok penting dalam keluarga yaitu ibu dan istri. Untuk menjadi seorang ibu, perempuan harus mengetahui bagaimana psikologi anak, harus mempelajari cara mengasuh anak (parenting), dan harus menjadikan dirinya teladan. Tak beda dengan halnya menjadi seorang istri, perempuan harus memahami bagaimana menjaga hubungan berpasangan, harus memahami tentang mengatur keuangan, dan masih banyak lagi. Dimana hal tersebut erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Dengan melimpahnya ilmu pengetahuan tersebut, otomatis peran perempuan sebagai seorang ibu dan istri menjadi kuat.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya perempuan-perempuan hebat yang memiliki peran kuat di lingkup yang luas yaitu peran mereka terhadap negaranya. Perempuan-perempuan tersebut yaitu Najeela Shihab yang merupakan pendiri sekolah Cikal dan pencetus Pendidikan, Septi Peni Wulandari yang merupakan pendiri Institut Ibu Profesional, Sri Wahyaningsih yang merupakan seorang aktivis pendidikan alternatif dan juga pendiri Sanggar Anak Alam, serta masih banyak lagi perempuan-perempuan hebat yang menjadi bukti bahwa pendidikan dapat memperkuat peran mereka di ruang lingkup kehidupannya.

Akan tetapi menurut saya, kesadaran para perempuan akan ilmu pengetahuan juga harus dikembangkan. Sebab, masih banyak sekali perempuan yang krisis kesadaran akan hal ini. Perlu pula kita (perempuan dan laki-laki) memberikan motivasi dan ilmu pengetahuan tentang mencintai dirinya sendiri, karena hal tersebut juga berdampak besar terhadap peningkatan ilmu untuk dirinya sendiri. Ilmu-ilmu penting tersebut dapat kita temukan di EduCenter.
#educenterid

Comments